Saat
pertama kali saya menginjakkan kaki di kotaJakarta pada pertengahan
bulan Juni tahun 1976, ada satu hal berkesan yang dapat saya rasakan sampai
saat ini. Yaitu, kebiasaan masyarakat Jakarta
terutama etnis Sunda dan Betawi untuk selalu mengucapkan salam dan bersalaman
dengan setiap orang yang baru mereka temui. Kebiasaan baik ini sangat berbeda
dengan kebiasaan yang berlaku di kampuang kita, terutama di Muarolabuah, budaya
mengucapkan salam dan bersalaman sangat langka kita jumpai pada masyarakat.
Selamat Puasa RAMADHAN 1428 H, semoga segala amal ibadah kita diterima dan dilipatgandakan oleh Allah Swt, Amin. Dan SELAMAT IDUL FITRI 1428 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Pembaca yang budiman, Sebagaimana telah kami utarakan pada beberapa edisi yang lalu bahwa dari ceramah adat yang kami simak serta beberapa sumber lain, adat Minang kabau ini telah diciptakan oleh nenek moyang kita sejak beberapa abad yang lalu, jauh sebelum agama Islam masuk di Minangkabau melalui proses penyesuaian selama beberapa abad pula, barulah diterima dan diamalkan oleh masyarakat Minangkabau, yang dipateri dalam suatu doktrin “Adat ba-sandi syarak, syarak ba-sandi Kitabullah”, syarak mangato, adat memakai.
Diriwayatkan bahawa surah AI-Maa-idah ayat 3 diturunkan pada sesudah waktu asar iaitu pada hari Jumaat di padang Arafah pada musim haji penghabisan [Wada*].
Pada masa itu Rasulullah s.a.w. berada di Arafah di atas unta. Ketika ayat ini turun Rasulullah s.a.w. tidak begitu jelas penerimaannya untuk mengingati isi dan makna yang terkandung dalam ayat tersebut. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersandar pada unta beliau, dan unta beliau pun duduk perlahan-lahan.