Oleh :
Nurfimanwansyah, Wakil Bupati Solok Selatan.
Tak berapa lama
lagi sebuah pesta demokrasi rakyat, yakni Pemilihan Umum 2009 akan digelar di
negeri yang kita cintai ini. Sebanyak 34 parpol berskala nasional dan beberapa
partai lokal akan berlomba-lomba mengikuti pemilu untuk memilih wakil-wakil
rakyat yang mereka anggap mampu mewakili kepentingan masyarakat banyak.
(Kisah ini ditulis oleh seorang muballigh yang ditugaskan ke Solok Selatan, Sumatera Barat pada tahun 2006. di sana telah berdiri SMP Plus Babussalam. Sekolah gratis pertama yang dimiliki oleh Babussalam di luar Jawa)Solok selatan adalah nama sebuah Kabupaten, pemekaran dari kabupaten Solok yang terdapat di Sumatera Barat. Terdapat lima kecamatan.dikenal juga dengan sebutan seribu rumah gadang. Karena di sana rumah-rumah gadang masih sangat banyak tersisa. Solok Selatan merupakan daerah pengunungan yang ketinggiannya kurang lebih 900 Km diatas permukaan laut. Babussalam Cabang Solok Selatan berlokasi di Jorong Pekonina, Nagari Alam Pauh Duo, Kecamatan Sungai Pagu, Kabupaten Solok Selatan. Tepat di persimpangan jalan atara jalur Kerinci dan Padang.
Hampir setiap hari kita menjadi saksi tentang polemic UU Guru dan Dosen di satu pihak dan PP No. 7 Tahun 2007 dipihak lain. Dan juga tidak kalah seringnya kita dipertontonkan dengan vulgarnya aksi-aksi demo oleh kedua belah pihak yang berkepentingan dengan dua perangkat konstitusi negara tersebut.
Ersis Warmasyah Abbas, dosen pada FKIP Unlam Banjarmasin. Lahir di Muara Labuh, Solok Selatan, 15 November 1957. Magister Pengembangan Kurikulum Pendidikan IKIP (UPI) Bandung (1995), Alumnus Pendidikan Teori, Metodologi dan Aplikasi Antropologi UGM (1993), pernah kuliah di PK Fakultas Filsafat UGM (1982), Sarjana IKIP (UNY) Jogja (1980) Sarjana Muda IKIP (UNP) Padang (1978), dan alumnus PGAN Padang (1975).
Cerita dibalik perancangan lambang dari Kabupaten Solok Selatan, kabupaten yang baru dimekarkan dari Kabupaten Solok.
Lambang artinya sesuatu dalam bentuk lukisan yang dijadikan sebagai tanda dari sesuatu. Misalnya lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berupa burung Garuda dengan segala makna dan pengertiannya. Pada sebuah pita yang dicengkram oleh kuku kedua kaki burung Garuda tersebut tertulis kata bersayap dari Mpu Tantular: ”Bhineka Tunggal Ika” (berbeda-beda tapi satu).