| Quovadis Sungai Pagu |
|
|
|
| Written by Ir. Gamal Yusaf, St. Batuah | ||
| Sunday, 17 January 2010 | ||
|
ada zaman antah barantah di Alam Surambi Sungai
Pagu disebut Kualo Banda Lakun terkenal manusia yang dalam curito
rang tuo di Alam Surambi Sungai Pagu disebut dengan nama Sitatok,
Sitaraan, Sianja, Sipilian digambarkan kepada kita masa kecil bagaikan
Raksasa yang sangat kuat dan seram, yang sangat menakutkan, mereka disebut juga
sebagai Inyiak Garagasi. Sehingga kalau Anduang bercerita tentang Inyiak Garagasi tidak ada
yang berani berkutik dan diam ditempat.
Seperti legenda Inyiak Garagasi yang sanggup
menarik bukit dari Taratak Paneh yang berupa ular besar akan menutup Muara Air
di Ambayan dan Banda Lakun kononnya
akan digenangi air seperti semula (danau). Karena kejengkelannya melihat
situasi di Kualo Banda Lakun sudah tidak kondusif, kehidupanya terganggu
oleh tindakan pendatang yang menduduki wilayahnya tanpa mengindahkan norma yang
sudah mereka jalani selama ini. Hanya sampai di seberang Batang Pulakek (Bukit
Pematang), Ayam Bakukuak, Fajar subuh menyinsing (kesiangan), Ular besar
tersebut berobah menjadi bukit dan tidak jadi sampai di Ambayan.
Hingga kini Alhamdulillah Kualo Banda Lakun tidak
jadi digenangi air.
Kelompok pendatang tersebut berhasil mengusir kelompok Inyiak Garagasi yang
berempat tadi sampai ke Aceh, ke pulau Carocok, Mentawai dan ke arah Sangir.
Semasa Alam Surambi Sungai Pagu yang dipimpin oleh
Inyiak Samsudin Sadewano nan Bagombak Putiah Bajangguik Merah, Nagari Aman,
Padi Manjadi, Jaguang maupiah, Taranak bakambang. Kehidupan dimasa itu sangat
makmur dan sampai ke Rantau Pasisie Banda nan Sapuluah berkembang penduduk
dengan pesat, Sebagai pusat perekonomian yang sangat maju, semua orang datang
ke Alam Surambi Sungai Pagu untuk berdagang, bekerja sebagai buruh, dan bahkan
ada yang sampai mangaku induak di Alam Surambi Sungai Pagu. Bahkan VOC Belanda
pun sempat membuat perjanjian dagang dengan salah seorang Raja dari Alam
Surambi Sungai Pagu.
Beberapa kurun waktu setelah itu terjadi
perselisihan antara pucuk pimpinan Adat memperebutkan pengaruh dan kekuasaan di
Alam Surambi, sampai pada suatu masa pemimpin tidak saling saiyo satido, hanya
mementingkan diri sendiri dan kaumnya masing-masing maka salah seorang Raja dimasa itu pergi
meninggalkan kerajaan, Hijarah ke Ampiang Parak kerumah Kamanakan di Pasisie
Banda nan Sapuluah,
Sayang jo Kampung Tingga – tinggakan, sayang jo
anak dilacuti,.
Selama ditinggalkan Alam Surambi menjadi kacau
balau, padi dimakan
Sepeninggal Raja ini di Alam Surambi Sungai Pagu
terjadi kekosongan pemimpin, semua orang yang bagak (Perewa) ingin menjadi Raja, dan memerintah dengan
caranya masing-masing sehingga sering terjadi perselisihan antara kelompok
bahkan tak jarang terjadi pertumpahan darah.
Sedemikian parahnya kondisi di Alam Surambi Sungai
Pagu, pimpinan adat dan masyarakat yang
masih punya hati nurani berunding untuk menjemput kembali Raja yang hijrah ke
Pasisie Banda nan Sapuluah tersebut, karena mereka sadar dan yakin bahwa ini
adalah kutukan Nenek Moyang mereka. Maka diutuslah salah seorang kemenakan
untuk menjemput, sehingga pulanglah kekampung dan bertahta di Kampuang Dalam
Pasir Talang. Dengan segala upaya Mengembalikan kembali kejayaan masa lalu.
Namun kenyataan berkata lain, upaya – upaya yang
dilakukan kerajaan untuk mengembalikan kejayaan tersebut sepertinya sia-sia dengan
masih banyak batu sandungan baik dari kalangan kerajaan maupun dalam masyarakat
sendiri. Ironisnya kerajaan tetangga yang dulu ber orientasi ke Alam Surambi
sudah jauh lebih maju dan bahkan ada yang menjadi Angku Demang dan menjadi
Angku Lareh di Alam Surambi, sedangkan di Alam Surambi sendiri masih merasa yang
dulu juga sekarang, mimpi masa jaya masih dirasakan dalam peradaban
sekarang.
Nan cadiak diawak, nan kayo diawak,
nan santiang diawak, tapi pado kanyataannyo awak kironyo bamimpi indah maso
lalu, awak kini ba Angku Palo ka Nagari Urang,
Ba Angku Lareh ka Urang Pandatang, Cupak diganti urang panggaleh, jalan di asak urang
lalu.
Dima kain kabaju, takanak mangko
diungkai, bari batali kabalakang, Dima nagari kamaju, dahan jo rantiang nan
dipakai, adat usali nan dibuang.
**Pernah di muat di |
||
| < Prev | Next > |
|---|




