Pariwisata Solok Selatan
Home
Jalan Lintas Tradisional Kambang – Sungai Pagu PDF Print E-mail
Written by Ir. Hasmurdi Hasan   
Saturday, 23 January 2010

Beberapa tahun belakangan ini ramai dibicarakan orang tentang rencana akan menghidupkan kembali jalan yang menghubungkan Sungai Pagu dengan Kambang, jalan yg mempunyai nilai historis bagi kedua daerah yg terhubung, namun sampai saat ini masih banyak kendala yang dihadapi untuk mewujudkannya. Pada kesempatan ini penulis akan mencoba menelusuri latar belakang sejarah dan menggambarkan suasana kondisi alam sepanjang route jalan tersebut, Kebetulan rumah gadang tempat tinggal penulis berada di route awal dan dijadikan tempat persinggahan bagi orang Pesisir setiba di Sungai Pagu, lokasi tepatnya di Mudiak Lawe.

Jalan setapak yang menghubungkan antara Kambang di Pesisisr Selatan dengan Sungai Pagu di Solok Selatan merupakan route tradisional yang telah terkenal sejak ratusan tahun yang lalu.

 

Jalan satu satunya yang menghubungkan Sungai Pagu yang berada di dataran tinggi pedalaman bukit Barisan dengan Kambang yang berada di Pesisir pantai lautan Hindia, jalan ini sangat strategis, disamping berfungsi sebagai jalur perekonomian juga bernilai historis dan sosial bagi penduduk yang berada di kedua daerah tersebut. Masyarakat yang ada di Pesisir Banda Sapuluah menggunakan istilah pulang, apabila mereka akan pergi ke Sungai Pagu. Penduduk di kedua daerah ini masih mempunyai pertalian darah, karena penduduk Pesisir Banda Sapuluah berasal dari Sungai Pagu, dalam ungkapan adat disebut, Bakarek bakuduangan - Basapiah babalahan, bak pinang dibalah duo, samo mamakai suku dan gelar Penghulu adat yang diwarisi dari Nyinyiek Kurang Aso 60 dari Sungai Pagu. Alam Surambi Sungai Pagu, Alamnya di Sungai Pagu, Surambi atau Rantaunya di di Pesisir Banda Sapuluah.

 

Sejarah kapan ada dan mulai digunakan route tradisional ini tidak ada data yang pasti, namun kalau kita merujuk kepada sejarah keberadaan Alam Surambi Sungai Pagu yang terkenal dengan sistem pemerintahan Daulah dengan Rajo Nan Barampek sebagai pimpinan, keberadaannya berawal dari kedatangan Nyinyiek Kurang Aso 60. Maka dapat disimpulkan bahwa keberadaan route tradisional Kambang - Sungai Pagu telah ada sejalan dengan keberadaan Alam Surambi Sugai Pagu, jauh sebelum penjajah bangsa Eropa datang. Sejarahnya berawal dari pertikaian antara Nyinyiek Kurang Aso 60 yang baru datang dari Luak Nan Tigo dan mulai merambah hutan membuka lahan pertanian di Sungai Pagu dengan penduduk yang telah lebih dahulu mendiami Sungai Pagu (waktu itu bernama BANDA LAKUN), kelompok ini dinamakan Sitatok - Sitarahan dan Sianya-Sipilihan.

 

Peperangan tidak dapat dihindari antara kedua belah pihak, terjadi pertumpahan darah, namun akhirnya karena peradabannya masih rendah persenjataan kurang lengkap akibatnya kelompok Sitatok - Sitarahan dan Sianya - Sipilihan terdesak lari ke arah Pesisir sampai ke Taluak Sungai Pudiang, Tapan Indropuro dan terus dikejar oleh kelompok Nyinyiek Kurang Aso 60 dibawah komando Panglima perang Inyiek Alang Palabah, dibantu oleh dua orang yang bertanggung jawab sebagai angkatan laut adalah Inyiek Gando Bumi, pandai manyaru jo mananuang, meniti ombak nan salabu, malalai ombak nan sabatang, bapantang basa dek ayie, itu sifat yang dipakainya. Inyiek Batampat Duo, ilang di lawik timbu di darek, baakuan buayo kumbang, bapamainan gajah kajirun, basuntiang kuku harimau, malalai ombak nan sabatang, bapantang angek dek api. Pengejaran berakhir di Tanah Tando - Tanah Tandang yang sekarang bernama Pesisir Banda Sapuluah. Kelompok Sitatok-Sitarahn dan Sianya-Sipihan menyerah kalah dan akhirnya terus melarikan diri pergi berlayar menuju Pagai kepulauan Mentawai. Kelompok ini kalau di Pesisir dikenal dengan istilah urang Rupik, ciri ciri peninggalannya adalah berupa kuburan panjang, kalau di Sungai Pagu kuburan panjang ini masih dapat kita saksikan sampai saat ini, lokasinya di Banuaran - Pauah Duo.

 

Setelah kelompok Sitatok-Sitarahan dan Sianya-Sipilihan pergi meninggalkan Tanah Tandok {Tanah Tandang), maka rombongan Nyinyiek Kurang Aso 60 juga pulang ke Sungai Pagu, namun sebagian dari mereka ada yang tinggal dan bermukim di daerah tersebut, mereka mulai membuka lahan pertanian dan mendatangkan saudara-saudara mereka dari Sungai Pagu, tempat mereka pertama menetap di Pesisir adalah di Kambang dan seterusnya menyebar ke seluruh Pesisir Banda Sapuluah. Sejak saat itu lalu lintas antara Kambang dengan Sungai Pagu melalui route tradisional ini ramai dilewati orang, walaupun telah dibangun jalan penghubung dari Padang oleh kolonial Belanda pada awal abad ke 20 dan telah dirintis sejak tahun 1837 yang akan digunakan untuk membawa hasil perkebunan dari Complex Cultuur Andernemingen dan Consessino yang dikelola oleh Europeansche Masstchappjen yang berlokasi di Liki, Sungai Lambai, Pekonina, Ulu Bangko, Pinang Awan, jalan ini melalui Sungai Pagu.

 

Secara ekonomi jalan ini sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan garam dan minyak goreng guna kebutuhan sehari hari oleh masyarakat Sungai Pagu, komoditi ini banyak terdapat di Pesisir, begitu juga beras yang melimpah di Sungai Pagu sangat dibutuhkan oleh masyarakat di Pesisir. Interaksi inilah yang membuat hidupnya route tradisional ini. Kalau ditinjau secara sosial, jalan ini digunakan sebagai sarana yang berfungsi sebagai penghubung tali persaudaraan di antara masyarakat kedua daerah. Kebiasaan kunjung mengunjungi pada hari baik bulan baik terlaksana berkat adanya sarana jalan ini. Pada buku Rusli Amran yang berjudul “Sumatra Barat Hingga Plakat Panjang”, di sebut bahwa pada tanggal 6 Juli 1663 dibuat Perjanjian Batang Kapeh oleh VOC dan ditanda tangani oleh Groenewegen, di antara 11 pasalnya terdapat 2 pasal mengenai Sungai Pagu, yaitu pasal 1. Isinya: VOC mendapat hak monopoli dagang di seluruh daerah Sungai Pagu, antara Salido dan Airhaji. Jika daerah Sungai Pagu diperluas, maka VOC juga mendapat monopoli di daerah-daerah yang baru. Tidak ada bangsa lain yang diizinkan dagang lagi disana. Sedangkan Pasal 11. Isinya: Rakyat di Sungai Pagu akan mengusir semua orang Aceh dari daerah mereka, segera setelah perjanjian ini disetujui oleh pemerintah pusat di Batavia. Kalau ada yang melanggar , boleh diusir secara paksaan dengan kapal-kapal Belanda. Dari tulisan ini dapat kita simpulkan bahwa daerah Pesisir Banda Sapuluah adalah merupakan bagian dari wilayah Sungai Pagu dan untuk kelancaran roda pemerintahan yang berpusat di Sungai Pagu ke daerah Pesisir dan juga untuk membawa keluar hasil bumi dari Sungai Pagu ke daerah Pesisir jalan satu-satunya yang ada pada saat itu adalah melalui route tradional jalan Kambang-Sungai Pagu. Betapa strategisnya jalan tradisional ini pada masa lalu. Untuk itu mari kita telusuri routenya mulai dari Sungai Pagu sampai ke Kambang.

 

Perjalanan berawal setelah sholat Subuh pada sebuah lapau Pagang di kaki bukik Gantiang-Mudiak Lawe, ada dua jalan yang bisa di tempuh, namun yang lazim adalah melalui Mudiak Sungai Tarok jaraknya lebih pendek, karena route awal dari jalur ini sangat terjal dengan kemiringan pendakian lebih dari 45 derajat, bagi yang tidak kuat akan memilih jalan yang agak landai melalui route Mudiak Sungai Talang terus ke Batu Mejan, walaupu jaraknya agak jauh, kedua route bertemu di Rimbo Parigi. Rimbo Parigi adalah batas perladangan masyarakat, setelah itu kita memasuki hutan perawan (Rimbo Rayo) di lokasi ini tidak ada lagi perladangan penduduk. Sebelum memasuki rimbo Rayo ini biasanya bagi yang baru pertama kali melewatinya akan diberi tahu ketentuan larangan yang harus dipatuhi, berhubung jalan yang akan dilalui ini termasuk hutan angker penuh mistik, karena termasuk ke dalam wilayah hutan Mande Rubiah, Berdasarkan pengalaman di hutan ini sering terjadi orang tersesat tidak menemukan jalan pulang, hal ini sering dialami oleh pencari rotan sampai saat ini, mereka baru bisa menemukan jalan pulang kebanyakan setelah mendapat pertolongan dan petunjuk dari harimau.

 

Ada beberapa pantangan atau larangan apabila kita akan memasuki hutan belantara, antara lain: Berkata kata kotor dan tidak senonoh, tidak boleh berteriak atau bersuit, tidak boleh mengambil air langsung dari sungai dengan periuk, mandi telanjang, kalau mandi di sungai terlebih dahulu ambil air yang sedang mengalir lalu siramkan kearah hulu aliran sungai, mendiang memanaskan telapak kaki di api unggun, membelah puntung kayu, kencing berdiri, tidak boleh bertanya kalau melihat atau mendengar hal-hal yang ganjil, tidak boleh mengatakan lapar, tidak boleh maengong atau melihat ke belakang waktu berjalan, tidak boleh saling mendahului waktu jalan beriringan. Semua pantangan ini harus dituruti kalau ingin selamat dalam perjalanan.

 

Sehabis jalan mendaki kita akan menemui gubuk peristirahatan di jalan yang agak datar, peristirahatan ini biasanya digunakan untuk bermalam bagi orang yang datang dari arah Pesisir. Perjalanan dilanjutkan melalui jalan setapak menelusuri punggung bukit, dikiri kanannya terdapat jurang yang dalam, berjalan di punggung bukit ini bagaikan meniti pematang panjang dan pada suatu lokasi kita akan melewati dua buah lubang kuburan dengan posisi terbuka, kita harus berjalan ditengah diantara dua lubang tersebut, karena dikiri kanannya tidak bisa dilewati ada tebing jurang. Lokasi ini lazim disebut Bukit Kuburan. Lubang kuburan tersebut sampai sekarang masih bisa kita saksikan, lokasinya selalu bersih walaupun tidak pernah ada orang yang membersihkannya. Menurut cerita pada zaman dahulu ada seorang ulama dari Pesisir ingin mengantarkan anaknya belajar agama ke Sungai Pagu, sesampai di lokasi tersebut di hadang oleh perampok berilmu hitam, perkelahian tidak bisa dihindarkan walaupun sang Ulama telah bersabar. Pendek cerita penjahat tersebut mati terbunuh oleh Ulama tersebut, lalu dikubur pada lokasi itu. Setelah itu Ulama tersebut meneruskan perjalanan menuju Sungai Pagu. Namun pada keesokan harinya mayat penjahat itu ditemukan oleh orang yang sedang lewat, mayat tergeletak di atas tanah kuburan, lalu mayat tersebut dikubur kembali pada lubang tersebut, keesokan harinya muncul lagi ke permukaan tanah, begitulah kejadiannya berulang ulang, rupanya mayat terebut tidak diterima oleh bumi karena perbuatannya. Sampai akhirnya mayat tersebut dibuang ke jurang oleh orang yang lewat. Dan kuburan tersebut kosong sampai sekarang. Pada tahun 1970 an pernah ada orang dari Jawa Timur yang berusaha untuk mengambil mayat yang telah menjadi Jenglot tersebut tapi tidak berhasil.

 

Setelah melewati bukit Kuburan kita akan melewati lokasi yang banyak terdapat kubangan satwa liar seperti kubangan Kerbau liar dan Badak Liar, melewati lokasi ini sewaktu waktu kita akan dapat menyaksikan Burung Puyuh Hutan sebesar Bebek dan aneka macam burung, begitu juga Ungko dan Siamang banyak terdapat disini.

 

Sehabis melewati lokasi kubangan Badak kita akan memasuki suatu lokasi yang di sebut bukit Kelambu, ketika kita melintasi lokasi ini suasana magis sangat terasa, kita bagaikan berada dalam kelambu, bukit Kelambu ini setiap waktu selalu berkabut, kita tidak bisa melihat langit karena dilokasi tersebut penuh dengan pohon rindang dan akar akar bergantungan, permukaan tanah tidak terlihat karena dilapisi tumpukan daun kering berguguran, permukaannya lembut bagaikan kasur, dilokasi ini tidak boleh merokok karena mudah terbakar. Dalam hutan perawan ini kita juga dapat menyaksikan tepian mandi Orang Bunian, lokasi tepian sangat bersih seolah olah ada orang yang selalu membersihkan dan menggunakan tepian sungai di tengah hutan belantara tersebut untuk mandi.

 

Bukit Kelambu telah terlewati akhirnya kita sampai di lokasi bukit Antak-an, disini kita mulai bertemu dengan anak air hulu sungai yang alirannya bermuara ke Barat menuju lautan Hindia. Perjalanan terus dilanjutkan, yang tadinya banyak mendaki sekarang mulai agak menurun mengikuti aliran sungai, sepanjang perjalanan di lokasi ini kita dapat menyaksikan aneka ragam pepohonan Palm seperti, Rotan, Manau dan Sampir.

 

Perjalanan diteruskan menelusuri tebing dan jauh dibawahnya terlihat mengalir sungai Batang Palangai, sesampai dibawahnya kita akan sering melintasi untuk menyebang sungai tersebut berulang kali hingga sampai di muara Batang Palapa, disini banyak terdapat binatang Tapir, kalau di Sungai Pagu binatang ini dikenal dengan sebutan Kampuah Balah Duo, di lokasi ini terdapat lokasi peristirahatan untuk bermalam. Kalau perjalanan dilanjutkan kita akan sampai di tempat alternatip peristirahatan bermalam ke dua, lokasinya berada di sebuah Gua batu yang disebut Gua Binu, Gua Binu terebut berada di pinggir sungai, sewaktu waktu di lokasi ini kita dapat menyaksikan aneka satwa berupa Kambing Hutan dan Serigala, juga kita dapat menyaksikan setiap saat banyak ikan berkeliaran didalam lubuk Sungai yang terdapat di depan Gua. Waktu malam di hutan belantara kita akan mendengar berbagai bunyi-bunyian, namun kalau kita amati bunyi bunyian binatang tersebut berirama, mulai dari sore bunyinya berada pada permukaan tanah yang berasal dari cacing dan serangga, semakin malam semakin tinggi suara berasal dari binatang di pepohonan berupa Jangkrik dan burung malam, di tengah malam akan kedengaran bermacam suara dari kejauhan melengking kadang seperti orang berteriak, menangis dan tertawa, membuat bulu kuduk merinding, mendekati subuh terdengar ayam hutan berkokok dan mendekati pagi terdengar suara Ungko dan Siamang dari ketinggian pohon.

 

Malam telah terlewati, setelah sholat Subuh perjalanan dlanjutkan lagi menuruni bukit, sampai akhirnya bertemu dengan aliran Batang Lengayang, tak berapa lama kita dapat menyaksikan lautan Hindia berwarna biru dari ketinggian bukit, pertanda Pesisir telah dekat. Perjalanan selanjutnya mulai memasuki perladangan milik penduduk yang berasal dari pesisir, sehabis perladangan ahkirnya perjalanan kita sampai di lokasi pemukiman penduduk di Koto Pulai dan Limau Manih Kulam, di lokasi ini terdapat lapau tempat istirahat sebelum kita sampai ke tempat tujuan akhir di Balai Kamih – Koto Baru atau di Balai Sabtu Kambang.

 
< Prev   Next >

Polls

Shoutbox

Latest Message: 5 months ago
  • [GUEST]anak mudo m : bidar alam....rasonyo pengen kasitu pai jalan2...maliek bukti sejarah nan dilupoan sejarah...
  • [GUEST]Siswandy_mo : oi urang kampuang,tlg sampaikan pasan dari rantau,kapado unsur pimpinan kito di solsel, kurang elok kito pandang tulisan"selamat datang dikabupaten solok selatan" nan tapampang ditapal batas ulu suliti,kok dapek dirubahlah jo tulisan yg agak elok,supayo ado kesan baik pertamonyo katiko kami parantau menginjakkan kaki pertamo saat pulang kakampuang, tarimo  kasih ateh paratian dusanak nan dikampuang.
  • mulyadi_miluk : banir ndak di jawa se do, di kampuang ajo banjir juo..di dusun ngebong..banjir juo kabanyo...
  • ardicell : banjir.....gmna tuh caro jln kalua nyo?
  • mulyadi_miluk : masya Solsel spertinya akan siap2 menerima Kompor LPG gratis dari Pemerintah
  • mulyadi_miluk : Berita apo yo yg lagi angek2nyo di SolSel
  • dave : Maju terus Solok Selatan....Salam hangat dr Nagari Kangaroo...SmileSmileSmile
  • mulyadi_miluk : awak ikut bangga dengan adanya kayakers di Sol-sel..jadi di kenal orang2
  • mulyadi_miluk : kenapa ya jarang yg OL di sini?..kadang beritanya kurang ter up-date
  • dave : Untuk member baru yg sudah pernah mendaftar silahkan login setiap saat.....SmileSmile
Please Login to shout..

Online

No Users Online

Who's Online

We have 5 guests online
Copyright © 2008 | Solok-Selatan.com| Managed and Developed by SATOE Jaring Multimedia