| Asal Usul dan Urak Uraian ALAM PAUAH DUO NAN BATIGO |
|
|
|
| Written by Ir. Gamal Yusaf, Sutan Batuah | |
| Thursday, 08 April 2010 | |
|
Pendahuluan
Lebih miris lagi,
salah seorang pemakalah yang berasal dari Perguruan Tinggi Negeri UNAND Padang,
seorang ahli Antropogi, yaitu kanda DR. Nursirwan Effendi, MM. (Kepala BKSNT[i]
- Padang) juga tidak mengenal sama sekali, dimana, dan apa itu Alam Surambi
Sungai Pagu.
Berawal dari situ,
Pembina Yayasan Tuah Nagari[ii]
dan Ketua Umum IKASUPA Jakarta[iii]
membentuk kelompok kecil melakukan dialog-dialog dan diskusi bersama
tokoh-tokoh Masyarakat yang berada di Jakarta secara rutin satu kali dalam
sebulan di Rumah Makan Gurih Jakarta Selatan dan Gedung Bidakara Jakarta untuk
menggali sumber-sumber pengetahuan tentang budaya dan wacana kedepan untuk
mangapungkan Alam Surambi Sungai Pagu ke permukaan, sehingga kasus di Lokakarya
tersebut tidak terulang lagi.
Bermacam kegiatan
yang monumental telah kami laksanakan, antara lain dialog dengan Penghulu Adat
dan Ninik Mamak di Alam Surambi Sungai Pagu di Kampus WIDYASWARA INDONESIA,
Dialog dengan tokoh-tokoh Adat dan Masyarakat di Perantauan (Khususnya
Jakarta), Mengundang dan Mengunjungi Tokoh Adat dari Alam Surambi Sungai Pagu
seperti Tuanku Rajo Bagindo serta jajarannya, Tuanku Rajo Malenggang serta jajarannya,
Tuanku Rajo Batuah serta jajarannya, Dialog dengan Daulat Yang Dipertuan
Bagindo Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah serta jajarannya, disamping kegiatan sosial
kemasyarakatan dikampung halaman Alam Surambi Sungai Pagu berupa, Proyek
percontohan Pembangkit Listrik Micro Hydro di Banuaran - Alam Pauah Duo,
Percontohan Bio Gas dan Pengembangan Jamur Tiram di SMA 1 Solok Selatan, Penggunaan
Pupuk Tablet untuk meningkatkan hasil panen Padi di Banuaran Alam Pauah Duo,
Seminar tentang Alam Surambi Sungai Pagu dan Peluncuran Buku Rumah Gadang
Falsafah Pembangunan dan Kegunaannya di Hotel Bumi Minang Padang, hasil karya
Kanda Ir. Hasmurdi Hasan, Kunjungan Tokoh-tokoh Nasional ke Alam Surambi Sungai
Pagu - Solok Selatan dan menjadi fasilitator
Media Cetak dan Televisi Nasional untuk meliput keindahan alam dan budaya di
Alam Surambi Sungai Pagu (Solok Selatan). Pemugaran Masjid Lama Kurang Aso Anam
Puluah di Pasirtalang bersama BP3 (Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala)
Dalam kesempatan
itu pula kami, (Ir. Hasmurdi Hasan, Johni Ersal, Dt. Rajo Pangulu, dan Ir.
Gamal Yusaf, Sutan. Batuah) mengambil kesempatan berdialog secara khusus dengan
tokoh-tokoh adat sebagai praktisi yang memahami dan mengerti masalah adat dan
budaya di Alam Surambi Sungai Pagu.
Khusus di Alam
Pauah Duo, penulis berdialog dengan Tokoh Adatnya seperti Kanda Tabrani, Dt.
Rajo Mulia, S.Pd (tak rajo kaganti rajo), J. A. Nasir,
Dt. Rajo Mantari, A.MA (Camin Taruih di Alam Pauah Duo), beserta tokoh masyarakatnya.
Dari situ penulis coba mengumpulkan dan menyatukan semua cerita (tutur) dari
sumber-sumber hidup tersebut. Berbagai
ragam dan versi dari cerita dan tutur tersebut, namun penulis coba menarik
benang merah sejarah untuk dituangkan dalam bentuk tulisan. diantaranya tulisan
yang pernah terbit antara lain ;. Quovadish Sungai Pagu, Cerita Legenda Syeh
Maulana Sofi dan Masjid Kurang Aso Anam Puluah, Taratik, Nasib si Daun Kunyik
jo Daun Asam, Mamabantai Kabau Nan Gadang di Alam Pauah Duo nan Batigo, dan
lain-lain yang belum rampung penulisannya. Sebagian juga pernah terbit pada
Warta IKASUPA dan Majalah TITIAN dan www.bandalakun.co.cc.
dan www.solok-selatan.com
Asal Usul dan
Urak Uraian Alam Pauah Duo ini masih jauh dari sempurna, banyak yang perlu
diperbaiki, ditambah atau dikurangi dan dikoreksi untuk mencapai suatu titik
temu yang mendekati kebenaran dari segala sudut pandang, karena tanpa tanggapan
dan kritikan yang membangun, khasanah ini akan buntu. Penulis dengan terbuka
untuk menerima kritikan dan masukan yang positif dan berharga, baik berupa
buku-buku atau tulisan sejarah dan budaya masyarakat khususnya cakupan Alam
Surambi Sungai Pagu. Tanggapan dan kritikan baik berupa bahan tulisan, rekaman
cerita/tutur tersebut dapat dikirim melalui e-mail
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
atau ke
alamat Mitra Abadi Printing Komplek. PLN Klender No. 15 Jl. Pahat RT. 010/02
Jatinegara.
Sebelumnya
penulis mengucapkan banyak terima kasih atas segala kritikan dan saran yang
pembaca sampaikan dan mohon ma’af bila ada kekeliruan dan kesalahan baik cara
penyampaian, tata tulisan yang kurang memenuhi kaedah Bahasa Indonesia yang
benar, itu mutlak kekurangan penulis.
Maaf kapado nan tuo – tuo,
baiek nan ado maupun nan tiado,
karano kito kan mambaco sajarah Nagari kito,
dan akan manyabuik dan mamaki namo niniak
kito,
asa usuanyo kito barado,
ulu pusako nan kito warisi.
Kok umua baru satahun jaguang,
kok darah baru satampuak pinang,
pangalaman kurang dalam bagaua
tolong tunjuak ajari nak tarang jalan kamuko
LATAR BELAKANG
Gelombang Pertama, Inyiak Samiek dan Inyiak Similu
Aie
Seperti yang
telah dituturkan kepada penulis oleh Kanda
Jamal Abdul Nasir, A.MA, Dt. Rajo
Mantari yang berfungsi sebagai Camin
Taruih[iv]
di Alam Pauah Duo dari Suku Tigo Lareh. Nenek Moyang yang pertama kali
datang dan tinggal menetap di Alam Surambi Sungai Pagu tepatnya di wilayah
Pauah Duo adalah Inyiak Samiek dan Inyiak
Similu Aie, yang ‘konon’ datang dari benua Mesir (Timur Tengah), kira-kira/sekitar
± 450 th SM, beliau datang untuk mencari wilayah baru (jembang) yang baik tempat tinggal atau menetap, dengan menelusuri Sungai
Batang Hari dari muara ke hulunya, pada masa itu lebih gampang menelusuri
sungai dari pada masuk kedalam hutan belantara, karena jalur sungai ini dapat
ditempuh dengan mudah tanpa rintangan yang berat, rombongan ini adalah
rombongan yang pertama datang. Untuk mengetahui suatu wilayah cocok atau
tidaknya untuk ditempati, beliau membawa ‘air’ yang berasal dari sungai Nil (Mesir)
dengan sebuah Kendi (wadah/tempat
air), dimana air yang di temui akan ditimbang dengan air dalam Kendi tersebut. Bila air tersebut sama
beratnya, maka wilayah tersebut cocok dan baik untuk tempat berdiam dan
berkembang biak.
Rombongan ini
menelusuri sungai tersebut sehingga sampai bertemu muara dua buah sungai/batang
air (batang Bangko dan Batang Suliti),
rombongan tersebut terus menelusuri batang Suliti sehingga bertemu wilayah yang
agak datar dengan hamparan pasir yang luas (Pasir
Talang sekarang) dimana pasir yang gemilang terhampar disepanjang sungai
tersebut. Sampai disana rombongan ini berhenti dan istirahat, untuk memenuhi
kebutuhan pangan mereka menangkap ikan dengan alat penangkap ikan seperti tangguak yang disebut dengan Lapun,
sebagian ada yang menyebut Lakun namun tujuan / artinya sama. Maka dalam
sejarah Alam Surambi Sungai Pagu, wilayah pertama yang dihuni mereka sebut
Banda Lapun/Lakun. Setelah diadakan penelitian dengan cara menimbang air dalam
kendi dengan air yang ada di
Ditelusuri pula
sungai tersebut. dan diteliti/ditimbang pula airnya, hasilnya mulai agak
mendekati berat air dalam kendi tadi sehingga dimudiek-i pula sungai yang satu ini dengan kondisi yang sangat
rapat pohon dan semak belukar disekitar sungai tersebut, karena sangat
rindangnya pepohonan sehingga mereka sebut kondisi saat itu dalam ungkapan :
kayu gadang basilek banyie,
rotannyo bajalingke,
bakuangnyo basingguang daun,
lagi samak lagi samun,
Yang kelihatan
hanya lobang yang bisa ditempuh dengan cara manyaruak
di sela-sela akar kayu dan rotan yang sangat lebat, menurut tuturan kanda Jamal
Abdul Nasir, A.MA, Dt. Rajo Mantari,
dari disinilah asal kata Batang Bangko
adalah dari kodisi medan saat itu yang di tempuh, yaitu lubang ko (lobang ini).
Setelah beberapa
jauh bertemu dengan muara sungai (di sekitar Benteang Koto Baru sekarang) Karena lakek
jajak, maka mereka namai pula sungai ini dengan Batang Pulakek dan ditempuh pula (mudiek-i) sungai Batang Pulakek ini sehingga bertemu dengan anak
sungai yang melintas (malinte), maka ditimbang pula air tersebut dengan air
yang di dalam kendi, ternyata sama beratnya, akhirnya dimudiek-i anak sungai tersebut yang terakhir mereka beri nama
dengan Batang Malinte Mudiek, dicari
lokasi disekitar Batang Malinte Mudiek
tadi, daerah yang baik untuk tempat menetap, jembang
nan elok maka dibutlah koto yang
sampai sekarang kampung tersebut terkenal dengan sebutan Koto Tuo di Jorong Taratak
Bukareh. Memang dalam sejarah (ranji)
yang dibacakan/diceritakan turun temurun di Alam Pauah Duo, Koto Tuo
tersebut adalah sebagai kampung asal.
Setelah itu Inyiek nan Baduo berkembang dan mencari
daerah untuk bercocok tanam atau kesawah, sampailah mereka menaruko sawah dan parak di daerah Pauah Duo, kearah tepi sungai Batang Bangko, tepatnya
di daerah Ujung Jalan sekarang, disitu ada nama kampung Pauah Duo.
Si Anja dan si Taraan lari ke daerah
Lubuk Gadang dan meninggal disana, sedangkan si Tatok lari ke laut, konon mati di pulau Carocok/Mentawai dan si Pilian
lari sampai ke Aceh yang dikejar oleh Inyiek
Alang Palaba, bersama pasukannya.
Gelombang Kedua, Inyiak
Semakin lama wilayah
ini makin berkembang, sawah taruko semakin
luas karena keluarga Inyiek Samiek
dan Inyiek Similu Aie semakin
berkembang biak pula, sampai suatu ketika (kurun waktu yang sangat panjang) datang
rombongan baru ke dekat persawahan mereka tersebut, yang disebut dengan Inyiek nan Salapan yang berjumlah delapan orang (kelompok?) yaitu :
1.
Inyiek
2.
Inyiek Ramang
Itam
3.
Inyiek Ramang
Putieh
4.
Inyiek Ratu Sarek
5.
Inyiek Indalan
6.
Inyiek Kumbo
7.
Inyiek Ba’ani
8.
Inyiek Candai
Aluih
Rombongan Inyiak Nan Salapan ini menelusuri jejak
dan lintasan yang sama dengan lintasan yang ditempuh oleh Inyiek Samiek jo Inyiek Similu Aie sebelumnya, orang yang pertama
datang di Koto Tuo dan membuat Nagari
Alam Pauah Duo. Samapai pada peertemuan Batang Suliti dan Batang Bangko,
dilihat airnya agak sedikit keruh dan ditempuh ditelusuri pula mudiek Batang Bangko sehingga sampai di
daerah Kapau sekarang. Dari
Tanpa mengganggu ulayat/wilayah penduduk yang sudah ada
disana, maka rombongan Inyiak Nan Salapan
tadi membangun daerah baru pula di Banuaran
(asal katanya Benua = tempat
tinggal), mereka membuat kampung pula disana dengan taratak seperti (Taratak Paneh, Batu Bajarang, Batu Bangkai,
Bulantiek dan lain lain disekitarnya).
Setelah mereka
bergabung dan membangun kampung secara bersama-sama berdampingan dan
bersosialisasi dengan penduduk yang sudah dahulu menetap di sana, kehidupan
masyarakatnya aman damai dan tentram sampai terbentanglah sawah-sawah yang luas
di dataran rendah antara Banuaran (di kaki bukit sebelah barat) dan Koto Tuo
(di kaki bukit di sebelah timur) dan diantara persawahan mereka tadi mengalir
dua sungai yaitu Batang Bangko dan Batang Pulakek, Padi manjadi Jaguang maupie, Taranak bakambang biak. Kedua kelompok
hidup berdampingan dan berbaur satu sama lain dibawah pimpinan Inyiak Samiak dan Inyiak Similu Aie di
Alam Pauah Duo dan Inyiek
Gelombang Ketiga, Inyiak Kurang Aso Anam Puluah
Pada suatu masa (kurun
waktu yang panjang) datang pula rombongan Inyiek
Kurang Aso Anam Puluah yang membawa aturan - aturan adat dan budaya dari
kerajaan Alam Minangkabau dari Pariangan Padang Panjang. ke Alam Surambi Sungai
Pagu yang masa itu disebutnya Lakuak
Banda Lakun. Rombongan ini datang dari arah utara menyelusuri Sungai Batang
Hari ke arah selatan sehingga sampai pula rombongan ini di Pasir Talang, mereka
tepati disana sudah ada tanda-tanda bekas kehidupan. Lama kelamaan mereka
mengikuti jejak rombongan yang terdahulu yaitu rombongan Inyiak Samiak dan Inyiak Similu Aie dan rombongan Inyiak Nan Kewi Majo Ano. dan sampai di
muara Batang Pulakek (Benteang) sudah ada kehidupan mereka jumpai masyarakat
disana, dengan menyelusuri Batang Pulakek mereka sampai di Lubuak Jariang dan bertemu dengan dua orang pimpinan disana yaitu
keturunan Inyiak Samiak dan Inyiak Similu
Aie yang menguasai wilayah Alam Pauah
Duo saat itu. Mereka mencoba mempengaruhi dan membujuk kedua orang tadi
untuk menyerahkan wilayah tersebut kepada mereka untuk wilayah baru, dan mereka
yang mengatur segala sesuatunya. Tentu penduduk asli di Alam Pauah Duo tidak setuju dengan begitu saja sehingga sempat
terjadi perselisihan anatara dua kelompok ini, yang konon pula terjadi
pertempuran di sepanjang sungai Batang Pulakek sampai ke pertemuan dengan
Batang Bangko, sehingga di muara Batang Pulakek ada kampung sampai sekarang
diberi nama “Benteng” tempat atau garis batas pertahanan pasukan Inyiak Samiek dan Inyiak Similu Aie
dibawah komando Inyiak Alang Palaba dan
Inyiak Sikok Simajolelo. sampai di Lubuak Jariang dihadang dengan menghalangi
jalan tersebut dengan pagar dan parit atau pematang, yang mereka sebut Ampang Labua. Kelompok Inyiak Kurang Aso Anam Puluah memasuki wilayah Alam Pauh Duo sedikit agak memaksa dan
keras menerapkan aturan-aturan adat yang mereka bawa, sehingga orang Alam Pauah Duo merasa di-alahan wilayah kekuasaannya, tak
dapat dihindari perang pun terjadi pada perbatasan ulayat.
Karena Alam Pauah Duo rakyatnya sedikit untuk melawan
Kelompok Inyiak Kurang Aso Anam Puluah
yang lebih banyak, maka perang tidak seimbang, hingga akhirnya orang Alam Pauah Duo melawan dengan cara
gerilya, merusak dan mengganggu ketenangan hidup mereka, kalau malam, air
sungai di keruhnya, diberi tuba (racun dari tumbuhan), dikeringkan/dialihkan (mengalah) dan sebagainya, sehingga sawah
dan kehidupan mereka terganggu atau tidak tenang.
Lama kelamaan
Pimpinan Rombongan Inyiak Kurang Aso Anam
Puluah mengambil kebijakan untuk mengirim juru bahasa untuk berunding dan
berdamai dengan orang di Alam Pauah Duo.
Maka dikirim sebagai juru bahasa dan juru runding tersebut adalah Datuak Rajo
Dalam rangka
perdamaian inilah prosesi Mambantai Kabau Nan Gadang terjadi
di Alam
Surambi Sungai Pagu. Didalam prosesi tersebut tertuang perjanjian dan
kesepakatan antara kedua belah pihak. Prosesi Mambantai Kabau nan Gadang
yang bertepatan dengan akan memulai turun kesawah dan menetapkan beberapa
pantangan dan larangan pada wilayah-wilayah vital seperti hulu sungai dan
hutan. Diamana dihulu sungai (Batang Bangko, Batang Suliti dan Batang Pulakek)
tidak dibolehkan Mangalah, Manubo, bahkan ada beberapa Lubuak Larangan disana ikan-ikannya
tidak boleh ditangkap sampai batas waktu yang ditentukan. Kalau ke hutan tidak
boleh menebang kayu, mahelo rotan dan
sebagainya. Bagi yang melanggar kesepakatan itu akan dimakan sumpah, dihukum
baik secara adat maupun secara moril.
Dalam Prosesi
Mambantai Kabau Nan Gadang ini pula disepakati bahwa kerbaunya untuk
upacara ini dipilih dan ditentukan
oleh orang Alam Pauah Duo Nan Batigo,
dipatuik harganya oleh orang di Balun (Parik
Gadang Diateh) wilayah Tuanku Rajo
Bagindo dan Kerbau dibantai di
Pasir Talang – Sungai Pagu. Dalam perundingan tersebut disepakati bahwa wilayah
adat Alam Pauah Duo ada didalam
Wilayah adat Alam Surambi Sungai Pagu.
Selesai Mambantai
Kabau nan Gadang yang disebut Bantai
Rajo-Rajo, maka ada pula Upacara Mambantai Kabau untuk penutup, disebut
juga dalam Adat ,Bantai Amad’.
Upacara ini dilakukan oleh penduduk di Batang Malinte Mudiak, Alam Pauah Duo
nan Batigo, dihadiri juga oleh Rajo-rajo atau yang mawakili Beliau sarta Niniak
Mamak, pelaksanaannya dilakukan di Balai-balai
lapeh, badindiang bukik, ba atok langik dan ba lantai tanah. Di sinilah tempatnya
utusan atau wakil Rajo manyampaikan titah berupa Perintah atau Larang Pantangan
supaya di jauahi, di sini pula diumumkan peraturan diundangkan supaya seluruh
masyarakat daerah Batang Marinteh Mudiak (Alam Pauah Duo nan Batigo) :
1. Diumumkan Palakat
Turun Kasawah selengkapnya menurut tata tertib yang disusun.
2. Diucapkan Amad yang
isinya antara lain berbunyi :
a.
Karimbo, kayu tak
buliah di tabang, Rotan tak buliah dirangguikkan, Manau tak buliah di pancuang.
b.
Kabatang Aie, Aie
tak buliah di karuah, batu tak buliah di baliak, tabiang tak buliah diruntuh.
c.
Ka Samak baluka,
buah manih, buah masam tak buliah diambiak, dipanjek mudo dan lain lain.
3.
Kok Pantang
dilampaui, kok Amad dilansuangkan / dilangga :
-
Ka bawah indak
baurek
-
Ka ateh indak
bapucuak
-
Di tangah tangah
digiriak kumbang.
-
Iduik sagan mati
tak namuah, bak karakok tumbuah di batu
Pada masa padi yang ditanam di sawah selesai disiangi
sawah mulai dikeringkan, maka mufakat pula orang Pauah Duo bersama orang bano Ka
Ampek Suku dan Rajo Mulia untuk mengakhiri / menghapus berlakunya titah dan
pantangan yang berlaku atau Amad indak
balaku lai yang di sebut ‘ Mambubuih Amad’. Mambubuih Amad yang demikian
rupa tidak boleh bebas dan leluasa untuk di cabut atau dilepas begitu saja,
tapi harus di atur dengan tata cara dalam kebijaksanaan hukum-hukum tersebut, sepanjang
hukum adat yang berlaku di Alam Surambi Sungai Pagu sabagai padoman :“Kok
ma-ampang jaan sampai kasubarang, kok mandindiang jaan sampai kalangik”
Dalam palaksanaan Mambubuih Amad tersebut diatur sedemikian
rupa dengan tatakrama adat yang sangat tinggi, patatah patitih yang enak
didengar namun mampunyai arti dan rahasia yang dalam, yaitu ‘ kok bubuih
jaan maruntuah tabiang, kok ungkai jaan mararak bingkai”
Maka melakukan sasuatu harus diatur dan teratur menurut
cara yang sabaik-baiknya, baik arah kabukik,
hutan rimbo, ka anak aie, jo sungai sungai, juo ka sasok karapuan tingga, supaya
jangan terjadi pelanggaran hak milik.
Demikian asal mulanya Mambantai Kabau nan Gadang yang dilakukan
menjadi Adat Kabudayaan turun temurun setiap tahun mulai turun ka sawah di Alam
Surambi Sungai Pagu.
Semenjak itu pula
orang Alam Surambi Sungai Pagu bebas
tinggal diwilayah tersebut dan diberi wilayah bagi yang tinggal disana oleh
orang Alam Pauah Duo yang sampai sekarang
disebut Urang Bano Ka Ampek Suku,
orang Malayu Kampuang Dalam yang
dipimpin oleh seorang Raja yaitu Datuak
Rajo Mulia (tak Rajo ka ganti Rajo dalam Kaum Malayu Kampuang Dalam) yang disebut dengan adat salingka parik. (Ampek suku : Malayu, Panai, Kampai dan
Tigolareh).
Semenjak adanya
perdamaian tersebut Nagari ini disebut dengan Alam Pauah Duo nan Batigo, karena masyarakatnya dipimpin oleh Inyiak
Samiek dengan bergelar sekarang Datuak
Samad Dirajo, dan Inyiek Similu Aie yang bergelar Datuak Rajo Lelo. Datuak Rajo nan Baso memimpin Urang Bano Ka Ampek Suku yang berasal dari Alam Surambi Sungai Pagu. Maka tersebutlah dalam sejarah / tambo ‘Alam
Pauah Duo nan Batigo’. bahwa Parahunyo;
Alam Pauah Duo. Isinyo; Bano Ka Ampek Suku, artinya wilayah Alam Pauah
Duo nan Batigo yang masyarakatnya adalah Bano Ka Ampek Suku yang dibawa oleh Inyiak Kurang Aso Anam Puluah.
Banuaran dalam Kaba /
Tambo Alam Surambi Sungai Pagu
Banuaran
Kotonyo Tuo,
tampek
Inyiak Syamsudin Sadewono,
kebesaran
tidak dijago alamat hancua kasudahannyo,
nan tuo
Puti Lipur Jajak, Babungka Ameh duo baleh tail,
pandai
batenggang di nan tidak wakatu lapang jaan jaie,
Diduduki
wakil baliau sasudah pindah ka Kampuang Dalam, yaitu Bagindo Sultan Besar (?),
memakai fungsi Daulat Tak Rajo Kaganti Rajo, didampingi Datuak Rajo Mulia yang memuliakan kebesaran
Daulat tampek ba iyo jo batido, melaksanakan amanat dari Daulat, mamegang
pitaruah dari Daulat, satitiak jadikan lauik, sabingka jadikan gunuang,
pimpinan di Pauah Duo nan Batigo, melayiakan Perahunya masing-masing nan dimuek
oleh ka ampek suku, kok satantang Bagindo
Sutan Besar lambang di Pauh Duo nan Batigo, Nan Mamakai Tambilang nan
Ampek, timbalan di Rajo Nan Barampek, nan Ba-sampin Ba-urang Gadang, Nan
ba-manti ba-ampang Limo. Basa Ampek Balai di Pagaruyuang, Bagindo Sutan Besar
sarato Datuk Rajo Mulia dan Datuk Bagindo Mudo, Kaampek Datuak Rajo Nan Baso yaitu
Urang Nan Satu Rumpun,
Kok Nan
Tuo Datuk Rajo Mulia pucuak dari ampek buah Paruik, Kok Timbuah silang jo
sangketo dan tumbuah jalan basaluran, kato pulang kapado pimpinan, kok
satantang tambilang nan ampek nan duduk di pintu nan ampek, manjago kunci jan ta kilie, manjago pintu nak janngan kupak,
lalok jangan kamalingan lupo jangan katinggalan, kok tagaknyo barampek gentang
kok duduknyo batingkek barih, adat limbago kok di tuang, satitiak jangan di bari,
baitu tibo di lantai tuo, ka pa angguakkan Daulat Nan Dipataruahkan kapado
kamanakan Baliau Nan bagala Bagindo
Sutan Besar (?), Pimpinan Pauah Duo Nan Batigo, Payuang Panji Kampek Suku.
Pihak
di camin taruih, pamandang adat jangan rusak paliek barih jaan hilang, pancaliak pusako jaan lanyok,
papatah sudah mangatokan, tibo di cupak samo kito lili tibo di undang kito
karasi, hulu tidak ba muaro lai, di siko kusuik indak salasai – Ikolah kaguno
camin oleh suntiang pamenan, pandang taruih dinan batin baliak jajak itu dari
pauah duo nan batigo sataruihnyo kapado kaampek suku.
Kok
satantang di tiang panjang, panjang di adat jo limbago panjang barih jo pusako,
kok kaateh tarmbun jantan sampai ka pucuak ubun-ubun, kok kabawah takasiak
bulan sampai kakarang nan bajojo,
di
lipek batang langkueh
di
ambiak pamasak samba lado
ingek-ingek
tuan di ateh
nan di
bawah kok manimpo.
Kok
Pauah Duo Nan Batigo, Rajo dalam cancang latiahnyo nan mampunyai parahu nan
kokoh nan di muek oleh kaampek suku, yaitu Cancang Latiah Di Pauah Duo, Nan di
pakai di ampek suku, baitulah suri kito
tanuni, kok bunjai samo kito ulasi”
Susunan Penghulu di Alam
Pauah Duo
A.
Tigo Lareh
a) Datuak Rajo Lelo
(Muncak Suku )
b) Datuak Rajo
Mantari (Camin Taruih)
c) Datuak Panggao
d) Datuak Bando
Labiah
e) Datuak Bagindo
Sutan (Kampai)
B.
Sikumbang
a)
Datuak Samad Dirajo (Muncak Suku )
b)
Datuak Sampono
c)
Datuak Jo Indo
C.
Malayu Ampek
Nyinyiak Limo jo Panai
1. Malayu
a) Datuak Rajo
b) Datuak Sutan
Khalifatullah
2. Koto Kaciek
a) Datuak Rajo Malin
b) Datuak Rajo
Tawakkal
c) Datuak Rajo Satie
d) Datuak Tandewano
e) Datuak Angkat
Suridirajo
3. Bariang
a) Datuak Tan
Bagampo
4. Durian
a) Datuak Rajo
b) Datuak Rajo Idin
c) Datuak Rajo
5. Panai
a) Datuak Rajo Nando
b) Datuak Jano Katik
c) Datuak Rang Kayo
Gadang
d) Datuak Rajo
Parang
e) Datuak Indo
Mangkuto f) Datuak Alang Palaba (Panjago Bateh Alam Pauah Duo – di Air Batu)
D.
Urang Bano ka
Ampek Suku
I. 1. Datuak
Rajo Aceh) (Malayu - Muncak Suku)
2. Datuak
Rajo Aceh) (Malayu - Muncak Suku)
3. Datuak
Rajo Biaro (Malayu)
4. Datuak
Sutan (Malayu)
5. Datuak
Rang Kayo Batuah (Koto Kaciek)
6. Datuak
Rajo Laie (Koto Kaciek)
7. Datuak
Tandewano (Koto Kaciek)
8. Datuak
Mudo (Bariang)
9. Datuak
Sati (Bariang)
10. Datuak
Rajo Idin (Durian)
II. 1. Datuak
Bando Besar (Panai Tigo Ibu - Muncak Suku )
2. Datuak
Jano Katik
3. Datuak
Nan Kayo Besar
III. 1. Datuak
Rajo Indo (Tigo Lareh - Muncak Suku )
2. Datuak
Panggao
3. Datuak
Rajo Mantari
4. Datuak
Bando Sati
5. Datuak
Patieh
6. Datuak
Rajo Genggang
7. Datuak
Rajo Indo Bumi (Sikumbang)
8. Datuak
Mangguang (Sikumbang)
IV. 1. Datuak
Saidano (Kampai - Muncak Suku )
2. Datuak
Inyiak Saidano
3. Datuak
Rajo Kampai
E.
Datuak Cumano (Malayu - Muncak Suku )
a) Datuak Marajo
(Malayu)
b) Datuak Rajo
Ampasang (Malayu)
c) Datuak Rajo
Satieh (Koto Kaciek)
d) Datuak Rajo
Antoso (Durian)
e) Datuak Gunuang
Ameh (Durian)
f) Datuak Rajo
Parang (Bariang)
g) Datuak Rajo Ampek
Suku (Panai)
F.
Urang Malayu
Kampuang Dalam
Datuak Rajo Mulia (Pucuak Pimpinan Urang Malayu
Kampuang Dalam- Indak Rajo Ka Ganti Rajo di Alam Pauah Duo nan Batigo)
a) Datuak Bagindo
Mudo (Melayu)
Sumber :
1.
Tutur, Carito dari Jamal Abdul Nasir, A.MA, Dt. Rajo Mantari, Camin Taruih di Alam Pauah
Duo nan Batigo
2.
Tutur, Carito dari Tabrani. Dt. Rajo Mulia Tak Rajo ka
Ganti Rajo di Alam Puah Duo nan Batigo
3.
Masyarakat umum di Alam
Pauah Duo nan Batigo
4.
Buku Alamat IKASUPA
Ir. Gamal Yusaf,
St. Batuah. Lahir di Pakan Salasa, 17 Pebruari 1963 yang lalu. Sekolah Dasar di
SD 01 Pakan Salasa kemudian SMP Negeri 1 Muaralabuh dilanjutkan ke SMA Negeri 1
Muaralabuh. sehingga menamatkan Sarjana Teknik Sipil di ISTN [i] BKSNT = Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional [ii] Brigjend Purn. (TNI) H. Armein Ahmad, Dt. Nan Bakupiah [iii] Zulkarnain, Daulat Yang Dipertuan Bagindo Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah
[iv] Camin Taruih, berfungsi sebagai : Pai tampek
batanyo, pulang tampek babarito, |
|
| Last Updated ( Thursday, 08 April 2010 ) |
| Next > |
|---|









