Jika ingin
mengetahui sejarah perkembangan Islam di Alam Surambi Sungai Pagu, salah
satunya adalah dengan melihat bangunan Masjid Kurang Aso Anam Puluah. Dari
bangunan Masjid tersebut kita dapat mengetahui budaya masyarakatnya, dari
bentuk Arsitekturnya kita dapat mengetahui kurun waktu pembuatannya dan dari
proses pembangunannya kita dapat mengetahui sejarah perkembangan Islam di Alam
Surambi Sungai Pagu.
D
alam
kancah kebudayaan di jagat raya ini, budaya Minangkabau kebetulan tergolong ke
dalam kelompok budaya majemuk yang lebih banyak menerima dari pada
memberi. Berbeda dengan kelompok budaya tunggal, seperti yang dianut di Cina, India
dan Arab, yang sebaliknya, yakni lebih banyak memberi dari pada menerima, atau
sekurang-kurangnya memberi dan menerima. Perilaku budaya majemuk ini telah kita
warisi dari nenek moyang kita sejak dahulu, tak terkecuali penduduk Alam
Surambi Sungai Pagu. Hal ini dapat kita buktikan melalui bangunan Masjid Kurang
Aso 60 yang memiliki model campuran Arsitektur Hindu-Jawa ( atap Joglo ),
Klenteng Cina ( lengkung jurai atap ) dan dipadu dengan Arsitektur tradisional
Minangkabau ( Atap, Miqrob dan susunan tonggak ).
Solok
Selatan, (ANTARA) - Dalam memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Solok Selatan ke 6
yang jatuh pada tanggal 7 Januari, Pemerintah Kabupaten Solok Selatan menggelar
pameran seni dan budaya selama tiga hari, 6-8 Januari.
Pameran
yang dipusatkan di jalan poros depan Kantor Bupati di Timbulun, Sangir ini,
diikuti oleh seluruh satuan kerja perangkat daerah (SKPD), Polres, Kejaksaan
Negeri, dan pihak swasta yang selama ini ikut membantu melakukan pembangunan di
Solok Selatan.
Penandatangan prasasti peresmian Kantor Bupati Solok Selatan oleh Bupati Solok Selatan, Drs. Syafrizal J, M.Si (Photo : Antara SUMBAR)
Sapan
Maluluang saat ini adalah sebutan untuk suatu tempat lokasi Wisata di daerah
Sapan, Pinang Awan, Kanagarian Pauah Duo Nan Batigo, Kecamatan Pauah Duo (Pekan
Selasa) di Solok Selatan, terletak diantara Muara Labuh dan Ibukota Kabupaten,
Padang Aro dengan jarak sekitar 2,5 KM dari Jalan Raya dengan alamnya yang
dikelilingi oleh hutan hujan dijajaran Bukit Barisan.
Dinamakan
Sapan Maluluang adalah karena gemuruh yang keluar dari dalam tanah dikaki perbukitan
tersebut pada pagi hari atau pada saat-saat tertentu seperti suara lolongan
atau raungan orang yang sedang menangis (Maluluang = Rauangan) adalah bahasa
daerah setempat.
[GUEST]anak mudo m : bidar alam....rasonyo pengen kasitu pai jalan2...maliek bukti sejarah nan dilupoan sejarah...
[GUEST]Siswandy_mo : oi urang kampuang,tlg sampaikan pasan dari rantau,kapado unsur pimpinan kito di solsel, kurang elok kito pandang tulisan"selamat datang dikabupaten solok selatan" nan tapampang ditapal batas ulu suliti,kok dapek dirubahlah jo tulisan yg agak elok,supayo ado kesan baik pertamonyo katiko kami parantau menginjakkan kaki pertamo saat pulang kakampuang, tarimo kasih ateh paratian dusanak nan dikampuang.
mulyadi_miluk : banir ndak di jawa se do, di kampuang ajo banjir juo..di dusun ngebong..banjir juo kabanyo...
ardicell : banjir.....gmna tuh caro jln kalua nyo?
mulyadi_miluk : masya Solsel spertinya akan siap2 menerima Kompor LPG gratis dari Pemerintah
mulyadi_miluk : Berita apo yo yg lagi angek2nyo di SolSel
dave : Maju terus Solok Selatan....Salam hangat dr Nagari Kangaroo...
mulyadi_miluk : awak ikut bangga dengan adanya kayakers di Sol-sel..jadi di kenal orang2
mulyadi_miluk : kenapa ya jarang yg OL di sini?..kadang beritanya kurang ter up-date
dave : Untuk member baru yg sudah pernah mendaftar silahkan login setiap saat.....